Dari Sebuah Kantor Notaris, Tiga Lembaga Merajut Ukhuwah untuk Teladani Sang Nabi

JATIM ZONE – Udara malam di Lingkar Barat Desa Batuan, Selasa, 26 Agustus 2025, tak sekadar dihirup. Ia dirajut oleh alunan shalawat yang mengalun khidmat, menyelinap di sela-sela percakapan tokoh agama, dan masyarakat yang duduk bersila di lantai.

Dari balik dinding sebuah kantor notaris, bukan suara mesin ketik atau derit lemari besi yang terdengar, melainkan gelora semangat untuk menghidupkan kembali teladan Nabi Muhammad SAW.

Acara yang digagas dari kolaborasi unik tiga pilar masyarakat, penyuluh agama KUA Kecamatan Batuan, PC Ansor Sumenep, dan Naghfir’s Institute ini lebih dari sekadar peringatan seremonial. Ia adalah sebuah upaya kolektif untuk menyelami kembali makna kelahiran Sang Pembawa Rahmat.

Suara tiga ulama kharismatik, KH. Qumri Rahman, Kyai Musahwi, dan Kyai Raden Bustomi bergantian memimpin lantunan shalawat, menggetarkan ruang dan menghantar para jamaah pada kilasan perjalanan Rasulullah di tanah Arab ribuan tahun silam. Setiap syair yang dilantunkan bukan hanya untuk didengar, tetapi dirasakan, seakan mengajak hadirin berjalan menyusuri peristiwa itu.

Di tengah atmosfer yang magis itu, Dr. Naghfir, S.HI., S.H., M.Kn., sang tuan rumah yang juga seorang notaris dan akademisi, mengambil alih podium.

Suaranya tenang namun penuh wibawa, memecah kebisuan dengan wejangan yang mengajak hadirin berpikir.

“Peringatan Maulid Nabi ini jangan hanya berhenti pada gemuruh shalawat di malam ini. Ia harus menjadi pionir, pencetus untuk kita menghidupkan akhlak Rasulullah dalam keseharian yang sering kali keras dan kompleks,”ujarnya, dengan mata yang berbinar.“

Pria yang akrab disapa Naghfir itu melanjutkan, menjelaskan peran sentral majelis taklim bukan sekadar tempat mengaji.

“Ia adalah benteng strategis, tempat kita menempa pemahaman keagamaan yang inklusif, merajut kesadaran kebangsaan, dan pada akhirnya, memperkuat tali persaudaraan (ukhuwah) yang mulai rapuh diterpa zaman.” ujarnya.

Perpaduan unik tiga lembaga ini, birokrasi keagamaan, organisasi pemuda nahdliyin, dan lembaga kajian strategismenjadi simbol sendiri.

Dr. Naghfir menyebutnya sebagai “bukti nyata” bahwa jawaban atas tantangan zaman tidak bisa dihadiri sendirian.

“Kolaborasi ini adalah sebuah permulaan,” pungkasnya, menatap para undangan yang terdiri dari berbagai latar, “Ia harus kita rawat bersama, agar kehangatan dan kebermanfaatannya bukan hanya untuk kita di ruangan ini, tetapi bisa merembes ke seluruh pelosok, menyentuh ranah agama, pendidikan, hingga sosial kemasyarakatan.” paparnya.

Malam pun beranjak. Acara usai, namun semangatnya tidak. Para jamaah beranjak perlahan, membawa pulang bukan hanya kenangan, tetapi sebuah tekad yang terpatri untuk meneladani Sang Nabi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *