JATIM ZONE – Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengenakan pakaian adat Sulawesi Selatan saat menjadi bagian dari upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Kantor Bupati Sumenep, Senin, 17 Agustus 2026.
Pilihan busana tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari penampilan dalam upacara kemerdekaan. Bupati Fauzi menyebut pakaian adat Nusantara menjadi simbol keberagaman masyarakat Sumenep yang hidup berdampingan dalam perbedaan suku dan latar belakang budaya.
Menurutnya, masyarakat Sumenep tidak hanya berasal dari suku Madura sebagai kelompok mayoritas, tetapi juga terdapat masyarakat dari suku Jawa, Bajo, Bugis, serta berbagai latar belakang lainnya.
“Masyarakat Sumenep memiliki latar belakang yang cukup beragam. Tidak hanya dari suku Madura saja, tetapi juga Jawa, Bajo, Bugis dan lainnya,” kata Bupati Fauzi.
Ia menilai keberagaman tersebut merupakan kekayaan sosial yang harus dijaga bersama. Perbedaan, kata dia, tidak semestinya menjadi alasan untuk terpecah, melainkan dapat menjadi kekuatan dalam memperkokoh persatuan dan mendukung pembangunan daerah.
Karena itu, penggunaan pakaian adat Nusantara dalam momentum kemerdekaan dinilai dapat menjadi pesan untuk memperkuat semangat kebhinekaan. Beragam pakaian adat merepresentasikan kekayaan budaya Indonesia yang berbeda-beda, tetapi tetap berada dalam satu identitas sebagai bangsa Indonesia.
Bupati Fauzi menegaskan, perbedaan suku, budaya dan latar belakang tidak boleh menjadi sekat dalam kehidupan bermasyarakat. Sebaliknya, keberagaman harus menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan yang harmonis.
“Kami ingin menegaskan dukungan kami atas Bhinneka Tunggal Ika,” tegasnya.
Ia menambahkan, semangat Bhinneka Tunggal Ika memiliki keterkaitan erat dengan makna kemerdekaan yang terus dijaga hingga saat ini. Kemerdekaan, menurutnya, tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga diwujudkan melalui kehidupan masyarakat yang berdaulat, adil dan makmur.
Dalam pembangunan daerah, Bupati Fauzi berharap seluruh elemen masyarakat Sumenep dapat terus menjaga kebersamaan serta berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing.
Perbedaan identitas budaya, lanjutnya, tidak seharusnya mengurangi rasa memiliki terhadap Sumenep maupun Indonesia. Justru, keberagaman tersebut diharapkan menjadi modal sosial untuk memperkuat persatuan dan mempercepat pembangunan daerah.












