Opini  

Atoghu Mano’: Ketika Sawah menjadi Ruang Belajar Kehidupan

Oleh: Suhartatik

(Dosen Universiats PGRI Sumenep dan Pegiat Rumah Literasi Sumenep)

Ada kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang, meskipun zaman telah berubah. Hal itu hidup dalam ingatan tentang sawah yang menguning, aroma tanah yang basah, bekal nasi jagung yang sederhana, dan suara kaleng yang bersahutan. Kenangan itulah yang hadir setiap kali mengingat atoghu mano’, tradisi masyarakat Madura yang dahulu bukan sekadar cara menjaga padi menjelang panen, melainkan juga ruang belajar kehidupan bagi anak-anak desa.

Tradisi ini dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan petani Madura. Ketika padi mulai menguning, mano’ keddhi’ (burung pipit) datang berkelompok dan dapat mengurangi hasil panen secara signifikan. Oleh karena itu, petani atau anggota keluarga bergantian menjaga sawah sejak pagi hingga sore. Mereka biasanya membuat rung-bârungan (gubuk kecil) di tengah sawah sebagai tempat berteduh sambil mengawasi tanaman padi mereka.

Untuk mengusir burung, digunakan berbagai cara sederhana, seperti: menarik tali yang dihubungkan dengan kaleng bekas atau bambu sehingga menimbulkan bunyi, mengibaskan kain atau daun kelapa yang dipasang di tengah sawah, berteriak atau membuat suara-suara tertentu untuk menakuti burung, dan membuat orang-orangan sawah (rèng-orèngan sabâ) sebagai penakut burung.

Bagi sebagian orang, atoghu mano’ mungkin hanya dipahami sebagai aktivitas mengusir burung agar tidak memakan bulir padi. Namun bagi kami yang tumbuh di lingkungan pedesaan Madura, atoghu mano’ adalah ruang belajar kehidupan, tempat bermain, sekaligus wadah mempererat hubungan antarsesama. Saya masih mengingat dengan jelas masa kecil ketika musim padi menguning tiba. Sepulang sekolah, tanpa perlu disuruh, kami langsung bergegas menuju sawah. Bukan untuk bermain bola atau mencari hiburan lain, melainkan ikut atoghu mano’ bersama orang tua dan saudara. Saat itu, menjaga sawah bukan dianggap sebagai beban, melainkan sebuah kesenangan yang dinanti-nantikan.

Bekal yang kami bawa pun sangat sederhana. Sebungkus nasi jagung yang dibungkus daun pisang, ditemani garam dan cabai yang ditumbuk menjadi buja cabbhi. Kadang-kadang, jika sedang beruntung, ada tambahan telur rebus yang tetap disantap bersama garam dan cabai. Mungkin bagi sebagian orang menu tersebut terlihat sangat sederhana. Namun ketika dimakan di tengah hamparan sawah yang luas, ditemani semilir angin dan aroma padi yang mulai menguning, rasanya sungguh luar biasa nikmat.

Di depan mata terbentang hamparan padi yang menguning bagai permadani emas. Bulir-bulir padi yang mulai merunduk menjadi tanda bahwa musim panen semakin dekat. Pemandangan itu selalu menghadirkan rasa syukur yang mendalam. Seolah-olah alam sedang memperlihatkan limpahan rezeki yang diberikan Sang Pencipta kepada para petani yang telah bekerja keras sejak musim tanam dimulai.

Namun keindahan itu juga mengundang kedatangan mano’ keddhi’, burung-burung pipit yang datang bergerombol untuk memakan bulir padi. Karena itulah kami harus selalu waspada. Di berbagai sudut sawah terpasang tali panjang yang dihubungkan dengan kaleng bekas atau potongan bambu. Ketika tali ditarik, kaleng-kaleng itu akan berbunyi nyaring, menghasilkan suara “ompreng” yang dipercaya mampu mengusir burung.

Suara kaleng yang berdentang, dipadukan dengan teriakan para penjaga sawah yang saling bersahut-sahutan, menciptakan irama khas yang hingga kini masih terngiang di telinga. Bagi kami, suara itu bukan kebisingan. Justru itulah lagu indah yang mewarnai kehidupan pedesaan. Dari satu sawah ke sawah lain, terdengar teriakan menghalau burung yang disambut suara kaleng beradu. Sebuah harmoni sederhana yang lahir dari kerja keras dan kebersamaan masyarakat tani.

Lebih dari sekadar menjaga tanaman padi, atoghu mano’ sesungguhnya menjadi sarana menjaga hubungan sosial antarwarga. Para petani yang sawahnya berdekatan akan saling menyapa, bercanda, dan bertukar cerita. Ketika burung mulai berkurang, kami sering berjalan menuju bârung mereka. Di sanalah berbagai percakapan berlangsung.

Orang tua berbincang tentang musim tanam, hasil panen, atau kehidupan sehari-hari. Anak-anak bermain sambil mendengarkan cerita-cerita mereka. Tak jarang bekal makanan yang dibawa dari rumah dibagi bersama. Jika satu keluarga membawa ikan asin, keluarga lain membawa telur rebus, semuanya dinikmati bersama tanpa memandang siapa yang memiliki lebih banyak atau lebih sedikit.

Kesederhanaan semacam itu tanpa disadari mengajarkan nilai-nilai penting dalam kehidupan. Kami belajar tentang kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, dan kepedulian terhadap sesama. Sawah tidak hanya menjadi tempat mencari nafkah, tetapi juga menjadi ruang sosial yang mempertemukan banyak orang dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan.

Atoghu mano’ juga menghadirkan petualangan kecil yang menyenangkan bagi anak-anak desa. Di sela-sela menjaga sawah, kami sering mencari kangkung liar yang tumbuh di pematang atau menangkap ikan dan ghundhâng atau ko’ol, kerang sawah yang bersembunyi di lumpur. Aktivitas sederhana itu menjadi hiburan yang tidak pernah membosankan. Alam menyediakan begitu banyak pengalaman yang membuat masa kecil terasa kaya dan bermakna.

Sayangnya, pemandangan seperti itu kini semakin jarang ditemukan. Tradisi atoghu mano’ memang masih ada, tetapi hanya dilakukan oleh segelintir orang. Anak-anak sudah tidak lagi berbondong-bondong ke sawah sepulang sekolah. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan telepon genggam, permainan digital, atau aktivitas di dalam rumah. Sawah yang dahulu ramai oleh suara tawa anak-anak kini terasa lebih sunyi.

Perubahan zaman memang tidak bisa dihindari. Teknologi membawa banyak kemudahan yang patut disyukuri. Namun di balik kemajuan tersebut, ada nilai-nilai kehidupan yang perlahan ikut menghilang. Anak-anak masa kini mungkin mengenal berbagai permainan modern, tetapi belum tentu pernah merasakan nikmatnya makan nasi jagung dengan bujâ cabbhi di tengah sawah, atau merasakan kegembiraan berlari mengusir burung di antara hamparan padi yang menguning.

Karena itu, atoghu mano’ layak dikenang dan diceritakan kembali kepada generasi muda. Bukan semata-mata untuk menghidupkan kembali cara bertani masa lalu, tetapi untuk mewariskan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tradisi ini mengajarkan bahwa menjaga hasil panen berarti juga menjaga kebersamaan, menjaga hubungan bertetangga, dan menjaga rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan.

Atoghu mano’ bukan sekadar kegiatan mengusir burung dari hamparan padi yang mulai menguning. Tradisi ini mengajarkan bahwa keberhasilan harus dijaga hingga akhir. Bagi petani Madura, panen tidak hanya ditentukan oleh kerja keras saat menanam dan merawat, tetapi juga oleh kesungguhan menjaga hasil yang hampir matang. Dari pematang sawah, masyarakat belajar bahwa setiap harapan memerlukan kesabaran, kewaspadaan, dan tanggung jawab agar tidak hilang sesaat sebelum tercapai.

Pada akhirnya, atoghu mano’ bukan hanya kisah tentang burung dan padi. Ia adalah cerita tentang masa kecil yang sederhana tetapi bahagia. Cerita tentang sawah yang menjadi sekolah kehidupan. Dan cerita tentang masyarakat Madura yang dahulu tidak hanya menjaga tanamannya dari serangan burung, tetapi juga menjaga keharmonisan hidup di antara sesamanya. Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak, nilai-nilai itulah yang sesungguhnya paling berharga untuk terus dipelihara.

Zharonkgie, 29 Mei 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *