JATIM ZONE – Madura Culture Festival (MCF) #4 2026 sukses berlangsung di Kabupaten Sumenep. Festival budaya tersebut menjadi ruang pertemuan seni dan tradisi dari 12 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Semarak pelaksanaan MCF 2026 tidak hanya ditunjukkan melalui berbagai pertunjukan seni, tetapi juga terlihat dari kebersamaan daerah peserta yang hadir dengan membawa ciri khas serta identitas budaya masing-masing.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, Faruk Hanafi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, termasuk kabupaten dan kota peserta, yang telah berkontribusi dalam menyukseskan pelaksanaan MCF 2026.
Menurut Faruk, partisipasi 12 kabupaten/kota menjadi salah satu kekuatan dalam penyelenggaraan festival. Kehadiran masing-masing daerah dengan kesenian khasnya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat keberagaman budaya Jawa Timur dalam satu panggung.
“Kami mengapresiasi seluruh kabupaten dan kota yang telah berpartisipasi. Kekompakan seperti ini menjadi kekuatan dalam menyukseskan MCF,” ujar Faruk.
Pada hari pertama pertunjukan, Kabupaten Sumenep mengawali penampilan dengan Tari Sonar Mosem Nemor. Penampilan kemudian dilanjutkan Kabupaten Tuban melalui Tari Mustikaning Kenya dan Kota Probolinggo dengan Tari Nyareh Jukok.
Kabupaten Bondowoso turut memperkenalkan Wirogo Singo Konah, sedangkan Kota Blitar menampilkan Tari Pleret. Selanjutnya, Kabupaten Malang hadir dengan Tari Sekar Tunjung Biru dan Kabupaten Pasuruan melalui Tari Gelora Pesisir.
Memasuki hari berikutnya, enam kabupaten kembali tampil memeriahkan panggung MCF 2026. Kabupaten Nganjuk menyuguhkan Tari Anjuk Ladang Tumandang, Banyuwangi menampilkan Tari Majestik, sedangkan Situbondo membawa Tari Bheko Tambeng.
Sementara itu, Kabupaten Bangkalan tampil dengan Tari Arojung Paseseran, Kabupaten Sampang mempersembahkan Tari Kerabhen Sape, dan Kabupaten Pamekasan menampilkan Tari Sandoreng.
Rangkaian pertunjukan tersebut menunjukkan beragam karakter seni dan budaya yang dimiliki daerah-daerah di Jawa Timur.
Faruk menegaskan, MCF bukan semata menjadi panggung untuk menampilkan kesenian, tetapi juga menjadi sarana silaturahmi serta mempertemukan antardaerah melalui kebudayaan.
“Budaya menjadi salah satu cara untuk mempererat hubungan antardaerah. Kita bisa saling mengenal, saling belajar dan bersama-sama menjaga kekayaan budaya yang kita miliki,” katanya.
Ia berharap penyelenggaraan MCF pada masa mendatang terus mengalami perkembangan, sekaligus menjadi agenda budaya yang semakin menarik perhatian masyarakat dan memberikan kesempatan lebih luas bagi para pelaku seni untuk berkarya.
“Yang kita harapkan tentu MCF ke depan semakin baik, semakin berkembang dan semakin banyak daerah yang ikut berpartisipasi,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo juga memberikan apresiasi kepada seluruh kabupaten dan kota yang turut berpartisipasi dalam memeriahkan MCF 2026.
Menurutnya, keikutsertaan berbagai daerah membuat MCF menjadi ruang perjumpaan beragam warna budaya Jawa Timur, mulai dari wilayah Madura, kawasan Tapal Kuda, hingga daerah-daerah lainnya.
“Kehadiran kabupaten/kota menjadikan MCF 2026 sebagai ruang perjumpaan berbagai warna budaya Jawa Timur, mulai wilayah Madura, Tapal Kuda, hingga kawasan Jawa Timur lainnya,” kata Bupati Sumenep di sela-sela MCF 2026 di GOR A. Yani Pangligur, Sabtu (29/8/2026).
Ia menilai kolaborasi antardaerah melalui festival kebudayaan memiliki peran penting dalam menjaga sekaligus mengenalkan seni dan tradisi kepada masyarakat secara lebih luas.
“Apresiasi dan terima kasih kepada seluruh kabupaten dan kota yang ikut bersama-sama memeriahkan Madura Culture Festival, sehingga kebersamaan ini menjadi kekuatan dalam menyukseskan festival budaya,” pungkasnya.
Kesuksesan MCF #4 2026 menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang yang mempertemukan berbagai daerah dalam satu panggung. Sebanyak 12 kabupaten/kota hadir membawa karakter dan identitas budaya masing-masing dalam satu perhelatan di Kabupaten Sumenep.
Selain menghadirkan kemeriahan pertunjukan seni, MCF 2026 juga memperkuat ruang perjumpaan, silaturahmi, dan kolaborasi kebudayaan antar daerah di Jawa Timur.












