JATIM ZONE – Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menghadirkan inovasi pengelolaan limbah makanan melalui program pertanian terpadu berbasis sirkular di Pondok Pesantren Nurul Amanah, Desa Basanah, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan.
Program bertajuk SANTARI (Santri Nurul Amanah Terampil dan Mandiri) ini berlangsung pada 23 Mei hingga 20 September 2026 melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM).
Program tersebut bertujuan meningkatkan keterampilan santri dalam mengelola limbah makanan agar lebih produktif sekaligus mendukung penerapan sistem pertanian terpadu yang berkelanjutan di lingkungan pesantren.
Tim pelaksana diketuai Zaitullah, dengan anggota Imam Mabrury, Faidatul Mawaddah, Ahmad Dhiyauddin, dan Ayu Amelia Azzurri. Kegiatan ini berada di bawah bimbingan dosen Faizal Amir, S.E., M.Si.
Program SANTARI dilatarbelakangi persoalan limbah makanan dari kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG) dan aktivitas sehari-hari di lingkungan pesantren. Melalui pendekatan Circular Integrated Farming, mahasiswa mengenalkan sistem pemanfaatan limbah organik yang menghubungkan budidaya maggot, peternakan ayam petelur, dan penanaman sayuran.
Dalam penerapannya, limbah makanan yang sesuai dipilah untuk dijadikan pakan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Sementara itu, residu budidaya maggot atau kasgot dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik untuk mendukung pertumbuhan tanaman sayuran.
Maggot yang dihasilkan juga diperkenalkan sebagai pakan alternatif bagi ayam petelur. Melalui sistem tersebut, limbah makanan dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber daya yang mendukung kegiatan peternakan dan pertanian.
Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi limbah yang terbuang sekaligus menumbuhkan keterampilan santri dalam mengembangkan sistem produksi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Nurul Amanah, Muhammad Dahri, menyambut positif program yang diinisiasi mahasiswa UTM tersebut. Menurutnya, inovasi ini berpotensi menjadi salah satu solusi dalam mengelola limbah dari kegiatan MBG maupun aktivitas pesantren.
“Kami sangat mendukung program ini. Harapannya, kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut sehingga limbah yang ada dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai, seperti pakan ternak atau pupuk organik, bahkan bisa membuka peluang usaha bagi pesantren,” ujar Dahri.
Ia berharap pendampingan dari mahasiswa dapat terus berlanjut agar pengelolaan limbah di lingkungan pesantren semakin berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dampak edukasi dan praktik program tersebut juga dirasakan oleh para santri. Salah seorang santri, Anam, mengaku memperoleh pengetahuan baru mengenai pengolahan limbah, budidaya maggot, pembuatan pupuk organik, hingga perawatan ayam petelur.
“Terima kasih kepada teman-teman mahasiswa yang sudah mengajari kami cara mengolah limbah dengan benar. Kami jadi mendapat pengetahuan baru tentang maggot, pupuk, dan cara merawat ayam sampai bisa menghasilkan telur,” ungkap Anam.
Apresiasi serupa disampaikan Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Makhlush Syadat. Ia menilai edukasi pengelolaan limbah di lingkungan pesantren merupakan langkah positif yang perlu dikembangkan secara berkelanjutan.
“Kami sangat mengapresiasi apa yang dilaksanakan oleh mahasiswa UTM dalam melakukan edukasi pengelolaan limbah MBG di pesantren. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa berkesinambungan, diterapkan di masyarakat yang sudah diberikan edukasi, serta memberikan dampak positif bagi lingkungan,” tutur Makhlush.
Melalui program SANTARI, mahasiswa UTM berupaya mendorong perubahan pola pengelolaan limbah makanan dari sekadar sisa konsumsi menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna. Keterlibatan santri dalam edukasi dan praktik langsung diharapkan menjadi bekal untuk menerapkan sistem pengelolaan limbah secara mandiri.
Keberlanjutan program ini diharapkan dapat diperkuat melalui kolaborasi antara santri, pengelola pesantren, SPPG, dan pihak terkait. Dengan dukungan bersama, pertanian terpadu berbasis sirkular tersebut diharapkan mampu mewujudkan lingkungan pesantren yang lebih bersih, produktif, dan mandiri.












