JATIM ZONE – Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mendapat apresiasi dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI atas keberhasilan melaksanakan proyek The Development of Integrated Farming System in Upland Areas (UPLAND) periode 2021–2026.
Penghargaan tersebut diterima Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo dalam acara yang berlangsung di Kantor Kementan RI, Jakarta. Apresiasi itu diberikan atas komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep dalam mengembangkan sistem pertanian dataran tinggi secara terintegrasi, dengan bawang merah varietas Rubaru sebagai salah satu komoditas unggulan.
Keberhasilan tersebut dinilai menjadi bukti potensi pertanian berbasis komoditas lokal untuk dikembangkan sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
Program UPLAND tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mencakup pembangunan infrastruktur pertanian, penguatan kelembagaan petani, penerapan teknologi budidaya, akses pembiayaan, hingga pemasaran hasil panen.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menyampaikan terima kasih kepada Kementan RI, International Fund for Agricultural Development (IFAD), Islamic Development Bank (IsDB), serta jajaran Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan program tersebut.
“Ini adalah pengakuan bahwa model pertanian terintegrasi di Sumenep berjalan. Dari 14 kabupaten pelaksana UPLAND, Sumenep bisa memberi contoh. Ini sejalan dengan target kita memperkuat ketahanan pangan dan nilai ekonomi petani lokal,” ujarnya.
Menurutnya, penghargaan tersebut bukan semata-mata pencapaian pemerintah daerah, melainkan juga bentuk pengakuan atas kerja keras para petani yang menjadi ujung tombak pengembangan bawang merah varietas Rubaru.
“Diakui, penghargaan ini adalah milik petani. UPLAND telah membuktikan bawang Rubaru Sumenep bisa jadi percontohan nasional. Komitmen kami adalah menjaga keberlanjutannya agar kesejahteraan petani benar-benar meningkat,” katanya.
Sumenep merupakan satu dari 14 kabupaten di Indonesia yang menjadi lokasi pelaksanaan proyek UPLAND, dengan dukungan pendanaan dari IFAD dan IsDB. Program ini dirancang untuk membangun sistem pertanian terpadu yang menghubungkan proses produksi hingga pascapanen.
Di Kabupaten Sumenep, pelaksanaan program dipusatkan di Kecamatan Rubaru dan Pasongsongan. Berbagai intervensi dilakukan, mulai dari pembangunan jaringan irigasi dan jalan usaha tani (JUT), penerapan Good Agricultural Practices (GAP), penguatan kelembagaan petani, akses permodalan, hingga pengembangan sektor pascapanen.
Pendekatan tersebut bertujuan mengatasi berbagai tantangan pertanian yang tidak hanya berkaitan dengan produktivitas, tetapi juga ketersediaan infrastruktur, kualitas budidaya, pembiayaan, kelembagaan, dan akses pasar. Dengan demikian, peningkatan hasil panen diharapkan berdampak langsung terhadap pendapatan petani.
Salah satu capaian program terlihat dari produktivitas bawang merah varietas Rubaru yang mencapai 16,1 ton per hektare pada panen Kelompok Tani Restu Baru di Desa Banasare, Kecamatan Rubaru, pada 2023.
Capaian itu menunjukkan potensi bawang merah Rubaru untuk terus dikembangkan sebagai komoditas strategis daerah. Varietas tersebut juga dinilai memiliki ketahanan terhadap penyakit dan daya saing untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Dalam menerima penghargaan tersebut, Bupati Fauzi didampingi Kepala Bappeda Kabupaten Sumenep Arif Firmanto dan Kepala DKPP Sumenep Chainur Rasyid.
Meski periode pelaksanaan UPLAND 2021–2026 segera berakhir, Pemkab Sumenep dihadapkan pada tantangan untuk memastikan manfaat program tetap berlanjut. Pemeliharaan infrastruktur, konsistensi produktivitas, peningkatan kualitas komoditas, perluasan pasar, dan penguatan nilai tambah menjadi sejumlah aspek penting yang perlu diperhatikan.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Kementan menegaskan bahwa UPLAND bukan sekadar proyek, melainkan langkah menuju pertanian modern yang tangguh dan berkelanjutan untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Sejumlah daerah pelaksana UPLAND juga menyatakan komitmen untuk melanjutkan program secara mandiri karena merasakan dampaknya terhadap peningkatan pendapatan petani kecil.
Bagi Sumenep, keberlanjutan program menjadi kunci agar keberhasilan meningkatkan produktivitas bawang merah Rubaru diikuti penguatan rantai pasok, perluasan akses pasar, dan peningkatan nilai tambah bagi petani.
Dengan potensi yang dimiliki, bawang merah Rubaru diharapkan tidak hanya menjadi produk unggulan khas Sumenep, tetapi juga berkembang sebagai komoditas strategis berbasis kawasan agropolitan yang mampu menjangkau pasar lebih luas di luar Madura.
“Bagi Sumenep, capaian ini memperkuat posisi bawang merah Rubaru sebagai komoditas strategis agropolitan, seiring target peningkatan nilai ekonomi petani dan perluasan pasar di luar Madura,” pungkas Fauzi.












