JATIM ZONE – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Moh. Anwar Sumenep menjamin pelayanan gizi bagi pasien rawat inap diberikan secara personal dan disesuaikan dengan kondisi medis masing-masing individu.
Tidak ada pemberian nutrisi yang disamaratakan mengingat setiap pasien memiliki kebutuhan yang berbeda.
Direktur RSUD setempat, dr. Erliyati, M.Kes, menegaskan bahwa penentuan asupan gizi pasien sepenuhnya dilakukan oleh tenaga profesional, yaitu ahli gizi, berdasarkan analisis medis dan rekomendasi dokter yang merawat.
“Ahli gizi akan menilai apakah pasien memerlukan gizi standar atau tambahan gizi khusus. Semuanya mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien untuk mendukung proses penyembuhan yang optimal dan aman,” jelas dr. Erliyati, Selasa, 03 Februari 2026.
Penilaian kebutuhan gizi, menurutnya, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tingkat kesadaran, usia, berat badan, dan penyakit atau kondisi patologis yang diderita. Baik pasien dalam kondisi sadar maupun koma tetap mendapatkan perhitungan asupan berdasarkan standar medis dan pemeriksaan klinis.
Selain menyiapkan makanan, rumah sakit juga menerapkan sistem kunjungan gizi. Dalam kunjungan ini, petugas gizi berkomunikasi langsung dengan pasien atau keluarga untuk menampung preferensi makanan, yang kemudian disesuaikan dengan perhitungan kebutuhan kalori yang telah ditetapkan secara medis.
“Jika dokter menetapkan diet khusus, seperti untuk diabetes atau penyakit tertentu, ahli gizi akan menyesuaikan asupan berdasarkan kondisi klinis pasien. Semua mengacu pada standar pelayanan gizi rumah sakit,” tambahnya.
Pelayanan ini, tegas pihak rumah sakit, berbeda dengan program gizi di luar layanan rumah sakit, seperti penanganan gizi buruk atau program penurunan berat badan. Mekanisme di RSUD murni bersifat klinis dan terintegrasi dengan perawatan medis.
Sementara itu, pejabat RSUD Sumenep, Arman Endika Putra menyatakan bahwa pelayanan gizi dan makanan pasien berjalan setiap hari.
Saat ini, RSUD Sumenep dengan kapasitas 233 tempat tidur melayani ratusan pasien dengan kebutuhan gizi yang beragam.
“Anggaran untuk penyediaan makanan pasien sekitar Rp2,3 miliar per tahun. Makanan yang disediakan beragam, dari makanan kering, basah, hingga susu, karena kami melayani pasien dari dewasa hingga bayi,” ujar Arman.
dr. Erliyati menambahkan, selama tidak ada kendala teknis pada sistem pendukung, seluruh proses pelayanan berjalan normal.
“Untuk setiap keluhan yang muncul, manajemen akan melakukan klarifikasi dan penyelesaian secara objektif serta profesional, sesuai prosedur yang berlaku,” ujar Erliyati.












