Lentera yang Menyinari Dua Sisi: Antara Jiwa Seni dan Jiwa Manajemen

JATIM ZONE –  Gedung kesenian di Universitas PGRI (UPI) Sumenep yang biasanya sunyi mendadak berubah menjadi panggung gemuruh tepuk tangan. Ratusan pasang mata tertuju pada panggung sederhana tempat sederet nama organisasi mahasiswa disebut. Namun, ketika kata “Sanggar Lentera” menggema dari pengeras suara, tepuk tangan itu terasa lebih lama, lebih keras, seolah memberi hormat pada sebuah perjalanan.

Di tengah hiruk-pikuk kampus yang sibuk dengan hiruk administrasi dan rutinitas perkuliahan, ada sekelompok anak muda yang memilih jalan berbeda. Mereka adalah anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sanggar Lentera. Di tangan merekalah, seni bukan hanya tentang tarian, lukisan, atau musik. Seni adalah tentang bagaimana mencatat, merapikan, dan mengorganisir mimpi.

Minggu, 15 Februari 2026 itu, dalam rangka Dies Natalis ke-41 UPI Sumenep, Sanggar Lentera membawa pulang dua penghargaan sekaligus di ajang Ormawa Awards: Ormawa dengan Administrasi dan Tata Kelola Terbaik, serta Program Kerja Inovatif. Sebuah kemenangan yang tak biasa. Bukan sekadar piala, tetapi pengakuan bahwa di tubuh organisasi seni ini, jiwa manajerial tumbuh sama kuatnya dengan jiwa kreatif.

Di ruang sekretariat yang sederhana, dinding-dindingnya dipenuhi sketsa dan catatan lama. Di sanalah Fathur Rahman, Ketua Umum UKM Sanggar Lentera periode 2025–2026, duduk merapikan berkas. Matanya berbinar ketika diminta bercerita tentang kemenangan itu.

“Ini merupakan hasil kerja keras teman-teman, baik anggota maupun pengurus yang tetap serius dan penuh totalitas,” ujarnya, suaranya datar tapi sarat makna.

Ia menarik napas, lalu tersenyum.

“Ini membuktikan bahwa di UKM Sanggar Lentera, kita tidak hanya gila dalam proses berkesenian, namun dalam hal tata kelola administrasi kita juga bisa bersaing,” sebutnya.

Fathur tahu betul, mengelola organisasi seni di tengah gempuran modernitas kampus bukan perkara mudah. Banyak yang memandang sebelah mata, menganggap anak seni hanya sibuk dengan panggung dan warna, lupa pada dokumen dan laporan. Tapi Sanggar Lentera membalikkan prasangka itu.

Penghargaan pertama, Administrasi dan Tata Kelola Terbaik, adalah bukti bahwa mereka tak hanya piawai menari di atas panggung, tapi juga cekatan mengarsipkan setiap jejak langkah. Setiap proposal, setiap laporan keuangan, setiap notulen rapat, semua tersusun rapi, seperti alur cerita yang ditulis dengan hati-hati.

Penghargaan kedua, Program Kerja Inovatif, menjadi mahkota yang melengkapi. Sanggar Lentera tak sekadar menjalankan agenda rutin. Mereka menghidupkan program-program yang menyentuh, yang tak hanya mengasah keterampilan seni anggota, tapi juga menanamkan nilai-nilai budaya dan kebersamaan.

Ketika ditanya tentang masa depan, Fathur menatap jauh ke luar jendela. Di halaman kampus, beberapa anggota baru sembari ditemani anggota di atasnya tampak berlatih tari dan teater di bawah pohon rindang.

“Harapan saya, semoga semangat kami terus mengalir untuk generasi selanjutnya. Tunjukkan hal yang lebih dari yang kami bisa,” katanya lirih.

Ia tahu, kepemimpinannya terbatas waktu. Tapi Lentera, seperti namanya, tak boleh padam. Ia harus terus menyala, berpindah dari satu tangan ke tangan lain, menerangi jalan bagi mereka yang datang kemudian.

Kemenangan Sanggar Lentera di Ormawa Awards bukan sekadar catatan prestasi biasa. Ia adalah sebuah simbol bahwa seni dan manajemen bisa berjalan beriringan. Bahwa di balik setiap goresan kuas, ada perencanaan yang matang. Di balik setiap gerak tari, ada koordinasi yang rapi. Di balik kata, ada metafora yang tersimpan dan di balik karya, ada nilai magnum opus yang tinggi.

Di UPI Sumenep, Lentera telah membuktikan bahwa organisasi mahasiswa berbasis seni tak harus kacau. Mereka bisa produktif, inovatif, sekaligus tertata. Mereka bisa menjadi lentera yang menyinari kampus dari dua sisi sekaligus: dari panggung seni dan dari meja administrasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *