Oleh: Suhartatik
Dosen Universitas PGRI Sumenep dan Pegiat Rumah Literasi Sumenep
JATIM ZONE – Di tengah kehidupan modern yang semakin terbuka, banyak nilai budaya lokal yang perlahan mulai terlupakan. Padahal, di balik ungkapan-ungkapan sederhana yang diwariskan oleh orang tua terdahulu, tersimpan pelajaran hidup yang sangat relevan untuk menghadapi berbagai persoalan zaman. Salah satu ungkapan yang cukup dikenal dalam masyarakat Madura adalah parsèko.
Dalam percakapan sehari-hari, kata parsèko biasanya digunakan untuk mengingatkan seseorang agar tidak melakukan sesuatu yang berpotensi menimbulkan bahaya, fitnah, kesalahpahaman, atau omongan yang kurang baik dari masyarakat. Parsèko bukan sekadar berarti “tidak boleh”, tetapi lebih dekat kepada makna “jangan melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan akibat buruk, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.”
Misalnya, ketika seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berada berdua saja di tempat yang sepi, masyarakat Madura sering mengingatkan bahwa hal tersebut parsèko. Bukan semata-mata karena telah terjadi sesuatu yang salah, melainkan karena kondisi tersebut dapat memunculkan prasangka, fitnah, atau persepsi yang kurang baik dari orang lain.
Begitu pula ketika seseorang menaruh benda berbahaya di tempat yang mudah dijangkau orang lain. Orang tua Madura akan mengatakan bahwa tindakan tersebut parsèko karena dapat mencelakakan orang lain. Dalam konteks ini, parsèko mengandung nilai tanggung jawab sosial agar seseorang tidak bertindak ceroboh.
Ungkapan ini juga sering digunakan dalam hubungan sosial sehari-hari. Seseorang dianggap melakukan hal yang parsèko ketika bertamu ke rumah orang lain lalu masuk tanpa izin saat pemilik rumah tidak ada. Demikian pula ketika seorang laki-laki sering berkunjung ke rumah temanya pada saat hanya ada istrinya tanpa kehadiran sang suami. Secara hukum mungkin tidak ada pelanggaran, tetapi secara etika dan kepantasan sosial tindakan tersebut dinilai kurang bijaksana karena dapat memunculkan kecurigaan dan gosip yang tidak pantas.
Tidak hanya dalam tindakan, parsèko juga berlaku dalam ucapan. Orang Madura dahulu sangat berhati-hati dalam membicarakan persoalan yang sensitif. Menuduh seseorang berselingkuh, membicarakan dugaan ilmu hitam, atau menyebarkan kecurigaan tanpa bukti dianggap sebagai perilaku yang parsèko. Sebab, ucapan yang terlanjur keluar bisa menyebar dari satu orang ke orang lain dan akhirnya menimbulkan konflik sosial yang sulit diperbaiki.
Sayangnya, makna parsèko mulai kurang dipahami oleh sebagian generasi muda saat ini. Perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi membuat batas-batas kepantasan sosial sering kali diabaikan. Tidak sedikit anak muda yang bebas keluar masuk rumah lawan jenis tanpa mempertimbangkan situasi dan pandangan masyarakat sekitar. Ada pula yang dengan mudah mengunggah informasi pribadi, lokasi keberadaan, kondisi rumah, hingga urusan keluarga ke media sosial tanpa menyadari risiko yang mungkin muncul.
Padahal, dalam perspektif budaya Madura, tindakan semacam itu dapat dikategorikan sebagai parsèko. Bukan karena masyarakat anti terhadap kemajuan, melainkan karena terdapat potensi bahaya yang mungkin timbul. Informasi pribadi yang diumbar dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan. Kedekatan yang dipertontonkan tanpa batas dapat memicu fitnah. Bahkan sebuah unggahan sederhana terkadang mampu menimbulkan konflik yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Jika dicermati lebih jauh, parsèko sebenarnya memiliki kesamaan dengan prinsip kehati-hatian yang saat ini banyak dibahas dalam berbagai bidang kehidupan. Dunia digital mengenal istilah digital safety, hukum mengenal prinsip pencegahan risiko, sedangkan budaya Madura sejak dahulu telah mengajarkan nilai yang sama melalui konsep parsèko.
Karena itu, parsèko tidak seharusnya dipahami sebagai bentuk ketakutan berlebihan atau pembatasan kebebasan. Parsèko adalah nasihat agar seseorang mampu mempertimbangkan dampak dari tindakan dan ucapannya sebelum semuanya terlambat. Orang yang memahami parsèko akan berpikir sebelum bertindak, berhati-hati sebelum berbicara, dan mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan.
Di tengah maraknya fitnah digital, kejahatan siber, perundungan media sosial, serta menurunnya sensitivitas etika dalam pergaulan, nilai parsèko justru semakin relevan untuk dihidupkan kembali. Kearifan lokal ini mengajarkan bahwa tidak semua hal yang bisa dilakukan berarti pantas dilakukan. Tidak semua yang boleh dikatakan harus diucapkan. Dan tidak semua yang ingin ditampilkan perlu dipublikasikan.
Pada akhirnya, parsèko adalah pelajaran tentang kebijaksanaan. Hal itu mengingatkan bahwa menjaga diri dari kemungkinan buruk sering kali lebih mudah daripada memperbaiki kerusakan yang telah terjadi. Dalam bahasa yang sederhana, orang Madura dahulu sebenarnya sedang mengajarkan satu hal penting yaitu: berhati-hatilah, karena tidak semua masalah datang karena niat buruk; sebagian muncul karena kita kurang waspada dengan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbuat kejahatan.
Zharonkgie, 13 Juni 2026










