Alumni Annuqayah II Gelar Renovasi Wakaf di Asta Agung Ali

JATIM ZONE – Ikatan Alumni Annuqayah II Lenteng Barat menggelar kegiatan renovasi wakaf di Asta Agung Ali.

Asta ini merupakan makam Agung Ali, pendiri Pondok Pesantren Annuqayah II, yang menjadi pusat penghormatan sekaligus tempat berziarah masyarakat setempat.

Kegiatan renovasi yang dimulai Jumat pagi, 19 September 2025, ini merupakan hari pertama dengan aktivitas menurunkan genteng dan kayu bangunan.

Renovasi akan terus dilakukan secara bertahap hingga selesai, dengan dukungan penuh dari alumni lintas angkatan serta masyarakat sekitar.

Ketua Alumni Annuqayah II, Mohammad Rozikin, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perbaikan fisik, melainkan juga ikhtiar menjaga kelestarian peninggalan sejarah dan spiritual.

“Renovasi wakaf di Asta Agung Ali ini menjadi ikhtiar kami untuk menjaga warisan pendiri Annuqayah. Semoga langkah kecil ini membawa manfaat besar, baik bagi jamaah maupun masyarakat luas,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterlibatan alumni dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa ikatan persaudaraan tidak hanya hidup dalam kenangan masa lalu, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata.

Sementara itu, Hamzari, salah satu alumni senior Annuqayah II, menambahkan bahwa renovasi wakaf tersebut mendapat dukungan penuh dari para alumni dan warga setempat.

Donasi yang terkumpul berasal dari sumbangan alumni dan masyarakat sekitar yang peduli terhadap kelestarian situs bersejarah ini.

Renovasi dilakukan tidak lain agar Asta yang memiliki nilai sejarah tinggi ini lebih nyaman dikunjungi, baik untuk berziarah maupun menimba hikmah.

“Bagi alumni, ini adalah amal jariyah yang akan terus mengalir, sejalan dengan nilai wakaf itu sendiri,” paparnya.

Lebih dari sekadar renovasi, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa ikatan alumni Annuqayah II tak hanya hidup dalam nostalgia, melainkan terpatri dalam aksi nyata menjaga warisan pendiri Annuqayah.

“Renovasi wakaf di Asta Agung Ali diharapkan tidak hanya meningkatkan kenyamanan para peziarah, tetapi juga memperkuat kesadaran akan pentingnya merawat situs-situs bersejarah yang menjadi bagian dari identitas pesantren dan masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *