JATIM ZONE – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep menggelar acara “Malem Salekoran” dengan tema “Titik Koma Kesenian Sumenep” di lantai II Kantor PCNU Sumenep, pada Minggu, 07 Juni 2026.
Kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tanggal 21 Hijriyah ini menjadi wadah untuk membedah dinamika kesenian dan kebudayaan di Kabupaten Sumenep.
Hadir sebagai narasumber, Ketua PCNU Sumenep, KH. Md. Widadi Rahim, serta Tenaga Ahli Bupati Bidang IPTEK dan Kebudayaan, Ibnu Hajar.
Kiai Widadi menilai perkembangan kesenian di Sumenep bergerak secara organik melalui komunitas-komunitas yang ada. Menurutnya, kesenian di wilayah tersebut masih berjalan sendiri-sendiri.
“Kita melihat kesenian di Sumenep ini kadang masih berjalan di ruang masing-masing. Seni rupa punya jalannya sendiri, sastra sendiri, komunitas lain juga begitu. Padahal, jika dirangkul bersama, dampaknya akan lebih besar,” paparnya.
Berangkat dari perspektif Nahdlatul Ulama, Kiai Widadi memandang kesenian tidak hanya sebagai sarana ekspresi, tetapi juga dapat menjadi media dakwah untuk menyampaikan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
“Kesenian bagi NU menjadi panggung dakwah untuk menyampaikan nilai-nilai Aswaja dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ibnu Hajar menyampaikan bahwa dinamika kesenian dan kebudayaan di Sumenep tidak bisa dilepaskan dari tradisi pesantren yang selama ini menjadi salah satu penyangga kehidupan budaya di Kota Keris.
“Kalau bicara kesenian Sumenep, kita tidak bisa memisahkannya dari pesantren. Banyak dinamika kebudayaan di daerah ini lahir dan tumbuh dari tradisi pesantren,” kata Ibnu.
Ibnu juga menceritakan sejarah pembentukan Lesbumi di Sumenep. Menurutnya, gerakan tersebut memiliki keterkaitan dengan aktivitas Jaringan Seniman Sumenep (JSS) yang pada masanya menjadi ruang berkumpul para pegiat seni dan budaya.
“Dulu ada ruang yang mempertemukan para seniman, salah satunya JSS. Dari situ kemudian lahir semangat yang ikut menjadi bagian dari tumbuhnya Lesbumi di Sumenep,” jelasnya.
Ia menyinggung perjalanan Lesbumi pada masa kepemimpinan Ketua PCNU Sumenep, Kiai Ilyasi Siradj. Lesbumi disebut pernah melahirkan buku antologi puisi berjudul Kampung Indonesia Pasca Kerusuhan yang diterbitkan oleh LKiS.
Sastrawan angkatan 1990-an itu mengajak Lesbumi Sumenep untuk tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, melainkan bergerak secara substantif. Ia mengibaratkan Lesbumi sebagai seorang koki yang tinggal mengolah kembali warisan para seniman sebelumnya.
“Lesbumi ini seperti koki, bumbunya sudah disiapkan para pendahulu. Tinggal bagaimana diolah menjadi sesuatu yang relevan dengan kebutuhan hari ini,” ujarnya.
Ketua Lesbumi PCNU Sumenep, Moh. Junaidi, mengatakan bahwa apa yang disampaikan kedua narasumber tersebut akan menjadi catatan penting bagi pengurus, terutama untuk merealisasikan berbagai program yang telah dirancang.
“Itu spirit dan perspektif yang harus kami terima sebagai catatan bagaimana Lesbumi akan berjalan ke depan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kesenian dan kebudayaan tidak melulu soal tontonan, tetapi juga menjadi ruang produksi ide, gagasan, dan karya. Karena itu, tugas Lesbumi adalah memosisikan diri sebagai fasilitator untuk turut mengintervensi ekosistem kesenian dan kebudayaan yang tidak hanya bertumpu pada panggung dan pertunjukan semata.
“Makanya, Malem Salekoran ini sebagai warisan dari kepengurusan Lesbumi sebelumnya tetap kami adopsi, terutama sebagai bagian dari proses transfer pengetahuan,” pungkasnya.












